Selasa, 27 Desember 2011

''PERUBAHAN SOSIAL TERMINAL GIWANGAN''


A.  Sejarah terminal Giwangan dan gambaran umum seputar terminal Giwangan
Sejarah terminal Giwangan
            Giwangan adalah salah satu desa yang terletak di pinggiran kota Yogyakarta, Desa Giwangan dulunya sangat sepi. Sekitar tahun 80an di selatan Giwangan dibangun kompi brimob Gondowulung, akibat berdirinya kompi brimob Desa Giwangan menunjukkan perkembanganan perekonomiannya dengan berdirinya perumahan, kampus dan Pasar Giwangan, ringroad dan Terminal Giwangan.
            Dahulu terminal Yogyakarta berada di belakang Polsek Umbulharjo, Tahun 2002 Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta membangun terminal giwangan dan tahun 2004 terminal tersebut beroperasi. Lokasi tempat terminal Giwangan dahulunya merupakan sawah yang luas dan juga merupakan tempat yang sangat strategis. Di tengah terminal ada pemakaman umum yang tidak bisa dipindahkan karena makam tersebut adalah makam tokoh masyarakat setempat.
Lokasi terminal Giwangan tidak jauh dari sebuah madrasah yaitu MTs Negeri Yogyakarta II. Sehubungan dengan adanya madrasah tersebut membuat kampung Mendungan sangat ideal bagi lokasi penyelenggaraan pendidikan. Namun seiring dengan kebijakan pemerintah Kota Yogyakarta, yakni dengan pembangunan terminal Giwangan, perubahan suasana kampung Mendungan mulai terasa. Hal ini terlihat dari mobilitas dan perubahan sosial serta tingkat kebisingan yang mulai terasa, Kenyamanan dan ketenangan yang sebelumnya begitu mendukung dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran lambat laun mulai terasa sekalipun belum begitu berpengaruh. Disisi lain perubahan dan perkembangan tersebut sebenarnya memberi dampak positif bagi Madrasah, karena akses untuk menuju ke Madrasah Tsanawiyah Negeri yogyakarta II semakin mudah. Tahun 2006 Yogyakarta dilanda bencana gempa bumi yangmana terminal Giwangan juga tidak luput dari kerusakan, tetapi dapat diperbaiki sehingga busa beroperasi hingga sekarang. (http://www.mtsn2yogya.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3&Itemid=5, 19:25)
Gambaran umum terminal Giwangan
Yogyakarta, sebagai ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan kota yang tidak terlalu sibuk, kota yang bukan berbasis industri dan bisnis, tetapi pergerakan manusia dari kota dan ke kota ini cukup banyak. Pembangunan Terminal Penumpang Tipe A Giwangan Yogyakarta dilakukan sejak September 2002 dan selesai Agustus 2004 serta langsung diaktifkan pada bulan September 2004. Pembangunan terminal terwujud dalam bentuk kerjasama operasional dengan sistem Built Operated Transfered (BOT) antara Pemerintah Kota dengan investor swasta PT Perwita Karya selama 30 tahun sejak September 2002 hingga September 2032. Kerjasama dengan bentuk Manajemen operasional terminal ditangani oleh Unit Pengelola Teknik Daerah (UPTD) Pengelola Terminal Dinas Perhubungan dan Manajemen sarana dan prasarana terminal dikelola oleh PT Perwita Karya yang mempunyai wewenang dan tujuan untuk menghasilkan keuntungan perusahaan melalui pemanfaatan sarana prasarana fasilitas penunjang dan tambahan terminal. Pembanguan terminal ini dipimpin oleh Imanudin Azis. Terminal ini dibangun untuk menggantikan dan menutupi kekurangan terminal sebelumnya, yaitu terminal Umbulharjo yang telah bertahun-tahun melayani penumpang bus. Terminal Penumpang Yogyakarta atau yang juga disebut Terminal Giwangan dibangun di atas lahan seluas 5,8 ha di tepi Jl. Lingkar Selatan. Akses jalan sekitarnya dilayani oleh outer ring road selatan, Jalan Imogiri dan Jalan Gunomerico. Terminal Giwangan mengikuti tata ruang Perda No. 6 Tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Untuk Kota (RTRUK). Sebagai satu-satunya terminal bertipe A, terminal ini mampu mengurangi kepadatan lalu lintas yang terjadi di pusat kota. Selain itu, kehadirannya di kawasan Giwangan membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
Sebagai tipe A terbesar di Indonesia, terminal Giwangan menghubungkan beberapa kota besar di Indonesia seperti Bali, Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Riau, dan Mataram, serta Bali dan Nusa Tenggara.
Bangunan terminal kebanyakan terdiri dari dua lantai. Lantai pertama difungsikan untuk aktivitas angkutan umum yang dibagi per wilayah dan jenis angkutan. Misalnya untuk angkutan AKAP diletakkan di ujung timur terminal dan AKDP di bagian tengah. Kemudian lantai kedua untuk aktivitas para pengguna jasa transportasi dan termasuk di dalam lantai dua, terdapat ruang tunggu dan berbagai fasilitas penunjang lain. Tabel 1 menunjukan bagian-bagian utama terminal Giwangan.
Tabel 1
Bagian Utama Terminal Giwangan
No
Bagian
Keterangan
1
Pemberangkatan
Bus perkotaan, AKDP, dan AKAP
2
Ruang Tunggu
Lantai Dua
3
Blok A dan B
Pusat Perbelanjaan
4
Blok C
Warung Makan
5
Blok D, E dan M
Agen Bus
6
Blok F
Pusat Oleh-oleh
7
Kantor Pengelola
Pemerintah Kota
8
UPTD Terminal
Dinas Perhubungan



Adapun lingkungan yang membatasi lokasi terminal Giwangan ini adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Batas Wilayah Terminal Giwangan
Arah Mata Angin
Batas
Utara
Pemukiman penduduk, kelurahan Umbulharjo
Timur
SPBU Pertamina
Selatan
Ringroad Selatan, Imogiri
Barat
Pasar Induk Giwangan, Pondok Pesantren Mahasiswa Stikes Surya Global
Di terminal Giwangan juga terdapat fasilitas layanan umum, seperti:
1.    Pengobatan,
2.    Informasi dan pengaduan,
3.    Kantor organisasi angkutan darat (ORGANDA),
4.    Keamanan.
Fasilitas layanan umum tersebut dapat digunakan oleh setiap penumpang yang membutuhkannya.
Terminal Giwangan disebut juga sebagai terminal BERTAMAN (Bersih, Tertib, Aman, Nyaman, dan Berwawasan Lingkungan). Untuk menciptakan kelancaran aktivitas transportasi dan kenyamanan pengguna jasa transportasi, disediakan berbagai macam fasilitas, seperti:
1.    Fasilitas Utama:
a.    Jalur pemberangkatan,
b.    Jalur kedatangan,
c.    Tempat parkir kendaraan selama menunggu keberangkatan, termasuk tempat tunggu dan istirahat kendaraan umum,
d.   Bangunan kantor terminal,
e.    Ruang tunggu penumpang atau pengantar,
f.     Menara pengawas,
g.    Loket penjualan karcis,
h.    Rambu-rambu dan papan informasi ( petunjuk jurusan, tarif, dan jadwal perjalanan ).
2.    Tersedia pula beberapa fasilitas pendukung lain seperti:
a.    Kamar kecil atau WC,
b.    Musholla,
c.    Kantin atau rarung makan,
d.   Telepon umum,
e.    Tempat bermain bilyard,
f.     Penginapan,
g.    Tempat penitipan barang, dan
h.    Taman.
Fasilitas-fasilitas yang ada di terminal ditambahkan demi kenyamanan penumpang. Sebut saja subway untuk penurunan penumpang, parkir bus antarkota dan dalam kota yang sengaja dipisah, ruang tunggu, tempat ibadah, dan kios-kios jajanan serta oleh-oleh.
Untuk memantau kegiatan dalam terminal Giwangan, Yogyakarta, petugas juga  mengoptimalkan pengoperasian tiga CCTV (closed circuit television) di terminal itu. Ketiga alat itu dipasang di ruang tunggu penumpang, pintu kedatangan bus, dan jalan masuk terminal. Dengan adanya alat itu diharapkan pengawasan bisa berjalan lebih efektif. Dengan pengawasan ini diharapkan juga mampu mengantisipasi  tindak kejahatan terhadap penumpang seperti pencopetan dan pembiusan seperti yang biasanya terjadi di terminal.
Akan tetapi, munculnya tempat penginapan di terminal Giwangan memungkinkan terjadinya prostitusi dan tindak penyimpangan lain yang akan berpengaruh pada nilai-nilai, norma, dan kebudayaan yang ada di masyarakat. Tidak hanya itu saja, di Terminal Giwangan juga terdapat tempat biliard. Hal ini merupakan hal yang sungguh luar biasa, jarang dan mungkin tidak ada terminal yang menyediakan tempat biliard bagi para pengunjung terminal. Tujuan dari penyediaan tempat biliard ialah untuk memberikan sarana hiburan bagi para penumpang yang menunggu kedatangan bus. Namun, hal ini dapat memicu terjadinya hal-hal negatif yang notabene biliard cenderung mengarah pada penyimpangan.

B.     Perubahan Struktur, nilai, dan norma masyarakat sekitar Giwangan setelah berdirinya terminal Giwangan
Setelah dibangunnya terminal Giwangan, mulai tampak perubahan pada struktur, nilai, dan norma sosial yang ada pada masyarakat. Pelapisan masyarakat banyak didasarkan pada tingkat kekayaan seseorang dan tingkat pendidikan. Dan mobilitas sosial bersifat lebih terbuka dan tidak kaku. Masyarakat cenderung lebih mudah untuk berpindah dari satu strata ke strata yang lain. Dalam hal nilai dan norma sosial, masyarakat banyak  mengalami perubahan dibandingkan dengan sebelum dibangunnya terminal Giwangan. Nilai masyarakat yang memiliki sifat kekerabatan yang erat beralih menjadi lebih kendor dan individualis serta matrealistis. Nilai-nilai keagamaan yang ada di dalam masyarakat pun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Masyarakat yang tadi cukup kuat memegang nilai agamanya menjadi cenderung melemah. Seperti tergambar pada banyaknya bermunculan tempat-tempat yang mengundang kemaksiatan yaitu penginapan dan tempat biliard. Adapun faktor yang menyebabkan perubahan di masyarakat Yogyakarta khususnya di sekitar teminal Giwangan itu sendiri antara lain:
1.        Faktor intern
Masyarakat di sekitar terminal Giwangan mengalami banyak perubahan disebabkan dari masyarakat terminal Giwangan itu sendiri yang menginginkan perubahan demi kesejahteraan hidup mereka.
2.        Faktor ekstern
Perubahan yang dialami oleh masyarakat di sekitar terminal Giwangan ialah sebagian besar disebabkan karena adanya pengaruh dari kontak kebudayaan masyarakat lain (luar). Terminal sebagai tempat pemberhentian, tentunya banyak di lewati dan disinggahi oleh banyak orang dari berbagai daerah dan pastinya membawa kebiasaan dan kebudayaan masing-masing yang secara tidak langsung merubah perilaku, nilai, norma masyarakat sekitar terminal.
Sedangakan proses perubahan yang dialami masyarakat terminal Giwangan relatif cukup singkat dan cepat. Karena pembangunan terminal itu sendiri hanya membutuhkan waktu 2 tahun, dari tahun 2002 hingga tahun 2004 dan langsung dioperasikan sebagai terminal besar yang melayani penumpang antarkota, antarprovinsi maupun antarpulau. Dengan adanya terminal ini pula masyarakat dengan cepat mengalami mobilitas sosial.
Suatu pembangunan tentunya mempunyai dampak, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positif dari pembangunan terminal Giwangan antara lain sebagai berikut:
1.      Masyarakat sekitar Giwangan khususnya mendapatkan mata pencaharian baru, baik itu sebagai penjual oleh-oleh maupun penjual tiket.
2.      Dengan adanya mata pencaharian baru secara langsung akan mengurangi pengngguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
3.      Pemerintah Daerah mendapatkan pendapatan, yang nantinya akan digunakan untuk pembangunan demi kepentingan bersama.
4.      Dengan adanya terminal mempermudah masyarakat karena banyak disediakan alternatif moda transportasi.
Adapun dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya terminal giwangan yaitu:
1.      Menimbulkan polusi baik itu polusi udara karena banyak kendaran-kendaraan besar yang berlalu lalang sehingga mempengaruhi kesehatan masyarakat.
2.      Timbulnya tindak kejahatan, terutama banyak dijumpai ketika menjelang hari raya. Banyak yang memanfatkan moment tersebut untuk melakukan tindak pencurian dan pembiusan.

C.    Pengaruh Pembangunan Terminal Giwangan terhadap masyarakat sekitar
Pembangunan terminal Giwangan di Yogyakarta tidak dapat dipungkiri pasti memberikan pengaruh bagi masyarakat, terutama masyarakat sekitar terminal. Pembangunan tersebut memberikan pengaruh di berbagai bidang kehidupan masyarakat seperti sosial, ekonomi,  dan sebagainya. Pengaruh ini sendiri sebenarnya hampir sama dengan dampak yang ditimbulkan seperti yang sudah dijelaskan diatas, namun disini akan dipaparkan lebih jelas, dimana terminal giwangan berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat diantaranya:
1.        Bidang sosial
a.    Menciptakan transportasi yang tertib dan nyaman.
b.    Mengurangi kemiskinan.
Dengan dibangunnya terminal Giwangan munculah lapangan kerja yang lebih luas untuk masyarakat.terlebih dengan dibangunnya fasilitas di dalam terminal berupa kios-kios yang digunakan untuk berdagang. Hal inilah yang dimaksudkan terminal Giwangan mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi warga di sekitar terminal. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pedagang asongan dan usaha-usaha seperti restaurant kecil yang menawarkan beragam masakan, dari nasi rames, gudeg, masakan padang, soto ayam, dan sebagainya. Banyaknya kios-kios berbagai makanan khas, seperti geplak, bakpia, yangko hingga intip. Yang paling sering dijumpai adalah adanya usaha penjualan tiket bus atau travel dan masih banyak pekerjaan-pekerjaan lain yang ada di sekitar terminal Giwangan. Dengan banyaknya lapangan pekerjaan yang ada maka pendapatan masyarakat pun meningkat. Pendapatan masyarakat yang meningkat tersebut akan membuat kesejahteraan masyarakat pun akan mengalami peningkatan. Sehingga tingkat kemiskinan masyarakat akan mengalami penurunan.
c.     Mengurangi jumlah pengangguran.
Terminal Giwangan memberikan pengaruh yang cukup besar bagi kesejahteraan masyarakat sekitar terutama dalam hal ekonomi. Pembangunan terminal Giwangan ini cukup membantu pemerintah daerah Yogyakarta dalam mengurangi tingkat pengangguran. Masyarakat dapat lebih mudah mendapatkan pekerjaan karena semakin terbukanya lapangan pekerjaan.
d.    Memudahkan akses transportasi masyarakat.
Setelah adanya terminal giwangan masyarakat akan lebih mudah menemukan alat transportasi sesuai yang dibutuhkan. Sehingga akan memudahkan masyarakat untuk menjangkau tempat-tempat yang akan menjadi tujuannya.
e.     Memicu adanya tindak kriminalitas
Apabila kita mendengar kata terminal biasanya yang muncul dalam benak kita ada preman, copet, dan terkadang sopir-sopir bus “nakal”. Pusat-pusat keramaian seperti terminal merupakan salah satu tempat yang megundang mereka untuk melakukan tindak kriminalitas.
f.     Keberadaan terminal menimbulkan dampak terhadap lingkungan yaitu permasalahan    pencemaran udara bagi lingkungan disekitarnya khususnya dapat menggangu kenyamanan penumpang.
2.        Bidang ekonomi
Pembangunan terminal Giwangan memberikan pengaruh yang sangat besar  terutama di bidang ekonomi. Dengan adanya pembangunan terminal, masyarakat disekitar terminal mengalami perubahan yang cukup signifikan.
a.    Meningkatan pendapatan pemerintah daerah
Dengan pemberian otonomi kepada daerah Kabupaten dan Kota, maka memungkinkan daerah yang bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tanggannya sendiri untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaran pemerintah dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan. Untuk dapat mengurus dan membiayai rumah tanggannya sendiri maka pemerintah daerah diberi kewenangan secara luas untuk menggali potensi daerah yang ada untuk dijadikan sebagai sumber keuangan daerah.
Salah satu sumber pendapatan yang dapat digali dan dikelola serta dimanfaatkan secara lebih intensif oleh masing-masing daerah adalah Pendapatan Asli Daerah. Semakin besar keuangan daerah maka akan semakin besar pula kemampuan daerah untuk dapat memberikan pelayanan bagi masyarakat dan daerahnya.
Daerah Giwangan merupakan salah satu daerah dalam wilayah Yogyakarta  yang mempunyai prospek yang cukup baik dalam mengelola Retribusi terminal sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah. Mengingat adanya terminal Giwangan yang merupakan terminal terbesar di Indonesia. Sebagai salah satu terminal terbesar di Indonesia, sudah pasti terminal Giwangan disinggahi banyak angkutan dan bis umum dari seluruh kota besar di Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Setiap bus yang akan memasuki area terminal Giwangan sendiri akan dikenai biaya sebesar Rp 2.000,- sehingga pendapatan dari terminal itupun cukup besar.
Hal inilah yang mampu memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan retribusi terminal sebagai salah satu pendapatan daerah yang dapat digunakan untuk meningkatkan pembangunan dan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah Giwangan, Yogyakarta.
b.    Pendapatan warga bertambah
Selain pendapatan pemerintah daerah yang bertambah, pendapatan warga juga mengalami peningkatan, karena sebagin besar warga berjualan, mengisi kios-kios yang ada.



1 komentar: